Kamis, 27 Januari 2011 |

situs watugilang banguntapan

situs watu gilang yang berada di dusun gilang baturetno, banguntapan, bantul, DIY. masih simpang siur mengenai kegunaan dan masa pembuatannya. situs watu gilang ini sebuah tempat semedi atau adalah sebuah bangunan tertentu. kejelasannya masih simpang siur.

situs watugilang banguntapan

menurut laporan penelitian herindra wikan nur pragnyana, dalam skripsi S1 jurusan arkeologi UGM tahun 2005 dengan judul potensi situs-situs masa klasik di kawasan piungan dan banguntapan Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta. disebuatkan bahwasanya dahulu kala situs watugilang tersebut merupakan sebuah pertapaan dari seorang Kyai bernama Kyai gejawan

relief kambing dan sapi

di setiap dinding badan watu gilang memiliki 2 panel relief berbentuk binatang dengan di kombinasikan bentuk sulur-sulur dan ornamen bunga. ada beberapa sumber yang menyebutkan bahwa panel-panel tersebut merupakan sebuah perlambangan dari tokoh-tokoh dalam wayang.

relief ikan dan musang

pada sisi utara terdapat relief bergambar ikan dan musang, sedangkan sisi barat terdapat relief gajah dan kuda terbang, sisi selatan kuda dan burung dan di sisi timur terdapat relief kambing dan sapi.dan mengenai binatang-binatang tersebut dipasang-pasangkan, cerita mengenai penggambarannya belum bisa dipecahkan.

relief gajah dan kuda terbang

situs watugilang sendiri berukuran panjang 2,60 m dan tinggi 1 m. sedangkan bagian atap watu gilang tersebut rata dan tepat ditengah terdapat sebuah lubang dengan kedalaman 15 cm dan berdiameter 18 cm. kemungkinan dahulu digunakan sebagai tempat dupa/penyanggah /penompang.

relief kuda dan burung

situs ini sendiri berada di sebuah lahan kosong yang di keteri oleh rumah-rumah penduduk. bukan tidak mungkin masa yang akan datang bisa tergusur moderenisasi. dan sayangnya tak ada papan pengumuman mengenai kejelasan bahwa batu gilang tersebut merupakan warisan budaya yang perlu dilindungi oleh negara.


NB : dengan anda mengunjungi situs cagar budaya dan sejarah bangsa ini, secara tidak langsung anda telah melestarikan saksi sejarah bangsa yang masih tersisa.. dan jangan biarkan batu-batu kuno tersebut hanya dijadikan sebagai dongeng masa kecil kita yang lambat laun bisa punah dikikis jaman..


selamat kelayapan..
salam budaya, salam nyariwatu selalu.

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

1 komentar:

Asosasi Petani Pelopor Penghijauan mengatakan...

Tulisan yang menarik, kunjungi blogku juga ya pak.bu, mas dan mbak!. Tak ada yang lebih menyedihkan dan mengharukan dari kisah Mangir pembayun, seperti juga ketika saya bersimpuh di makam Pembayun di Kebayunan Tapos Depok Jawa Barat, bersebelahan dengan makam anaknya Raden Bagus Wonoboyo dan makam Tumenggung Upashanta, kadang sebagai trah Mangir, aku merasa bahwa akhirnya mataram dan mangir bersatu mengusir penjajah Belanda di tahun 1628-29, cobalah cermati makam cucu Pembayun yang bernama Utari Sandi Jayaningsih, Penyanyi batavia yang akhirnya memenggal kepala Jaan Pieterz Soen Coen pada tanggal 20 September 1629, setelah sebelumnya membunuh Eva Ment istri JP Coen 4 hari sebelumnya, kepala JP Coen yang dipenggal oleh Utari inilah yang dimakamkan di tangga Imogiri, Spionase mataram lagi lagi dijalankan oleh cucu Pembayun dan ki Ageng Mangir,

Poskan Komentar

bangs yang bijak adalah bangsa yang hebat mengkritik dan mengapresiasi... mari di komentar?