Senin, 13 Juni 2011 |

Candi Gembirowati

Situs Candi Gembirowati berada di Dusun Watugajah, Desa Girijati, Kecamatan Panggang, Kabupaten Gunung Kidul, Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta. dan berada di sebuah bukit di pesisir pantai parangtritis .Situs ini diduga oleh masyarakat sekitar sebagai reruntuhan candi, namun sebenarnya ini adalah sebuah pesanggrahan yang dibangun pada jaman Mataram Islam. jadi situs ini dibangun bukan pada masa hindu budha, melainkan masa islam.

candi gembirowati

Berdasarkan cerita rakyat setempat, situs Gembirowati merupakan tempat tinggal Jogobiro yang mempunyai saudara bernama Bambang Sumantri. Jogobiro mempunyai keadaan fisik menyerupai raksasa sedangkan Bambang Sumantri mempunyai keadaan fisik sebagai kesatria. Karena Jogobiro iri terhadap keadaan fisik saudaranya, maka terjadilah peperangan di tempat tersebut.

Cerita lainnya adalah Dewi Citrowati yang menikah dengan kakak kandungnya karena mereka berpisah sejak kecil. Sang kakak yang bernama Sri Dipo Kusumo adalah seorang pertapa yang terpesona saat melihat kecantikan Dewi Citrowati. Hubungan perkawinan satu darah tersebut ternyata diketahui oleh orangtua mereka, sehingga mereka diasingkan di daerah pesisir selatan Pulau Jawa. Putri yang dibuang oleh ayahnya ini kemudian mendirikan pesanggrahan di Gembirowati. Anak dari hasil perkawinan tersebut setelah dewasa mendirikan istana dan menjadi penguasa di Bukit Boko.

Namun selain itu, masih ada juga persepsi lain yang menceritakan bahwa situs ini candi yang dibangun oleh pengeran parangkusumo untuk membuat sebuah padepokan Pangeran dipokusuma. dia mempunyai seorang anak gadis yang telah lama hilang. Beliau mempunyai beberapa anak buah, namun satu di antara anak buahnya itu terdapat gadis yang sangat cantik, yaitu Daruwati. Tanpa di sadari Pangeran Dipokusuma jatuh hati kepada Daruwati. Mereka saling mencintai sampai akhirnya Daruwati hamil. 

Pangeran Dipokusuma lalu ingin menikahi Daruwati, akan tetapi tiba tiba terdengar berita bahwa Daruwati adalah anaknya yang telah lama hilang. Beliau sangat kaget dan merasa sangat malu terhadap apa yang telah di lakukannya. Akhirnya beliau pergi jauh meninggalkan Daruwati. Daruwati pun tak tahu kemana perginya Pangeran Dipokusuma. Beberapa bulan kemudian ada berita yang mengabarkan bahwa Pangeran Dipokusuma meninggal karena bunuh diri. Karena itulah candi ini belum terbentuk seluruhnya dan baru terbangun dua tingkat candi di atas bukit mata air dan di atas pohon- pohon besar. (sumber: gembirowati blogspot)

puncak candi yang kini sering dijadikan sebagai tempat menempatan sesaji

Dibagian atas candi berbentuk sebuah batu tumpuk yang biasa di gunakan oleh beberapa orang untuk menaru bunga-bunga sesaji. dan yang unik dari candi ini ialah candi ini dipercaya sebagai candi untuk menyembah nyiroro kidul. persepsi tersebut di kaitkan dengan arah candi yang menuju ke selatan.

ukiran di dinding badan candi

namun, dalam catatan sejarah yang ada. situs Gembirowati adalah salah satu tempat yang digunakan sebagai pesanggrahan oleh Sultan Hamengkubuwono II. dimana kala itu Sultan Hamengkubuwono II telah memerintah selama tiga periode pada kurun waktu 1792-1828 M. Pembangunan fisik yang dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwono II, hampir semuanya berada di luar kraton berupa pesanggrahan. Rujukan atas keberadaan tempat ini adalah Serat Rerenggan Kraton, yang menyebutkan pesanggrahan hasil seni bangun karya Sultan Hamengkubuwono II berjumlah tiga belas buah, namun yang masih dapat dilacak keberadaan fisiknya tinggal empat buah, yaitu Pesanggrahan Ngarjokusumo, Wonocatur, Purwokusumo, dan Jowinangun.

Situs gembirowati yang berada di bukit di pesisir pantai parangtritis

Situs Gembirowati pernah dikunjungi oleh ahli purbakala berkebangsaan Belanda pada tahun 1902. F.D.K Bosch menyatakan bahwa dari arsitektur bangunan, bentuk pilar, dan hiasan yang ada diperkirakan peninggalan ini dibangun sekitar abad ke-16. Pernyataan Bosch tersebut ditulis dalam OV atau Oudheidkundige Verslag (yaitu laporan arkeologi Pemerintah Hindia Belanda) pada tahun 1925.

Penelitian selanjutnya diadakan pada tahun 1982 berupa studi pengumpulan data situs dan tahun 1984/1985 melalui studi kelayakan oleh Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala (SPSP) DIY. Kegiatan studi pengumpulan data disertai pula wawancara dengan sumber-sumber yang diperkirakan mengetahui riwayat keberadaan situs tersebut. Kegiatan pengumpulan data dan studi kelayakan dilanjutkan dengan penggalian pemugaran yang dilaksanakan oleh kantor SPSP DIY pada tahun 1991 dan Kantor SPSP DIY bekerjasama dengan Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada pada tahun 1992. Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan, SPSP DIY tahun 1992 dilakukan pemugaran situs tersebut.

foto situs gembirowati tahun 1925

Medan untuk menuju situs candi ini cukup susah dijalani, sebab jalan pada ruas menuju bukit tempat dimana candi ini berada jalannanya terbut dari batu cadas belum lagi terdapat tanah-tanah basah dan becek yang membuat warga dan pengunjung yang hendang mengunjungi situs candi ini perlu berhati-hati untuk bisa sampai di situs candi ini.


NB : dengan anda mengunjungi situs cagar budaya dan sejarah bangsa ini, secara tidak langsung anda telah melestarikan saksi sejarah bangsa yang masih tersisa.. dan jangan biarkan batu-batu kuno tersebut hanya dijadikan sebagai dongeng masa kecil kita, yang lambat laun tentu saja akan punah dikikis jaman..


Selamat Kelayapan..

Free Template Blogger collection template Hot Deals BERITA_wongANteng SEO

5 komentar:

PRAKARYA S1BOY mengatakan...

mas atau mbak tolong pean join ke blogger q ya
alamtnya dmosisboy.blogspot.com

teror de brind dhilh mengatakan...

candi pemujaan untuk nyiroro kidul.... menarik juga untuk di kunjungi

A A mengatakan...

menarik dan penuh informasi blog anda, salam knal dari saya..

yudi beji mengatakan...

maaf numpang tanya, artikel ini penulisnya siapa ya ?

setyo budi mengatakan...

Pengin bgt kunjung ke tmpat itu, pdhal dari awal sdh di rencanakan tapi knpa sllu terlewatkan..
//hemzt sayang....

Posting Komentar

bangs yang bijak adalah bangsa yang hebat mengkritik dan mengapresiasi... mari di komentar?